Minggu, 07 April 2013



A. Pengertian Sumber Daya Alam

Sumber daya alam (biasa disingkat SDA) adalah segala sesuatu yang muncul secara alami yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia pada umumnya. Yang tergolong di dalamnya tidak hanya komponen biotik, seperti hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme, tetapi juga komponen abiotik, seperti minyak bumi, gas alam, berbagai jenis logam, air, dan tanah. Inovasi teknologi, kemajuan peradaban dan populasi manusia, serta revolusi industri telah membawa manusia pada era eksploitasi sumber daya alam sehingga persediaannya terus berkurang secara signifikan, terutama pada satu abad belakangan ini. Sumber daya alam mutlak diperlukan untuk menunjang kebutuhan manusia, tetapi sayangnya keberadaannya tidak tersebar merata dan beberapa negara seperti Indonesia, Brazil, Kongo, Sierra Leone, Maroko, dan berbagai negara di Timur Tengah memiliki kekayaan alam hayati atau nonhayati yang sangat berlimpah. Sebagai contoh, negara di kawasan Timur Tengah memiliki persediaan gas alam sebesar sepertiga dari yang ada di dunia dan Maroko sendiri memiliki persediaan senyawa fosfat sebesar setengah dari yang ada di bumi. Akan tetapi, kekayaan sumber daya alam ini seringkali tidak sejalan dengan perkembangan ekonomi di negara-negara tersebut Persebaran Sumber Daya Alam di Indonesia :

B. Persebaran Sumber Daya Alam

Persebaran Hasil Pertanian 

  • Padi (beras)
Daerah penghasil padi (beras) antara lain Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat.

  • Jagung
Daerah penghasil jagung antara lain Jawa Tengah (Wonosobo, Semarang, Jepara, dan Rembang); Jawa Timur (Besuki, Madura); serta Sulawesi (Minahasa dan sekitar danau Tempe).

  • Ubi kayu (singkong)
Daerah penghasil singkong adalah Sumatera Selatan, Lampung, Madura, Jawa Tengah (Wonogiri), dan Yogyakarta (Wonosari).

  • Kedelai
Daerah penghasil kedelai adalah Jawa Tengah (Kedu, Surakarta, Pekalongan, Tegal, Jepara, Rembang), D.I. Yogyakarta, Jawa Timur (Jember).

  • Kacang tanah
Daerah penghasil kacang tanah ialah Sumatera Timur, Sumatera Barat, Jawa Tengah (Surakarta, Semarang, Jepara, Rembang, Pati), Jawa Barat (Cirebon, Priangan), Bali, dan Nusa Tenggara Barat (Lombok).

Persebaran Hasil Perkebunan
Hasil perkebunan negara kita antara lain tebu, tembakau, teh, kopi, karet, kelapa (kopra), kelapa sawit, cokelat, pala, cengkeh, lada, dan vanili. Di mana saja persebaran hasil perkebunan tersebut? Mari kita lihat satu per satu.
  • Tebu
Daerah penghasil tebu, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sumatera (Nangroe Aceh Darussalam).

  • Tembakau
Daerah penghasil tembakau ialah Sumatera Utara (Deli), Sumatera Barat (Payakumbuh), Bengkulu, Sumatera Selatan (Palembang), Jawa Tengah (Surakarta, Klaten, Dieng, Kedu, Temanggung, Parakan, Wonosobo), dan Jawa Timur (Bojonegoro, Besuki).



  • Teh
Daerah penghasil teh, yaitu Jawa Barat (Bogor, Sukabumi, Garut), Jawa Tengah (Pegunungan Dieng, Wonosobo, Temanggung, Pekalongan), Sumatera Utara (Pematang Siantar), dan Sumatera Barat.



  • Kopi
Daerah penghasil kopi, yaitu Jawa Barat (Bogor, Priangan), Jawa Timur (Kediri, Besuki), Sumatera Selatan (Palembang), Bengkulu (Bukit Barisan), Sumatera Utara (Deli, Tapanuli), Lampung (Liwa), Sulawesi (Pegunungan Verbeek), Flores (Manggarai).



  • Karet
Daerah penghasil karet, yaitu D.I. Aceh (Tanah gayo, Alas), Sumatera Utara (Kisaran, Deli, Serdang), Bengkulu (Rejang Lebong), Jawa Barat (Sukabumi, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas, Batang), Jawa Timur (Kawi, Kelud), dan Kalimantan Selatan ( pegunungan Meratus).



  • Kelapa (kopra)
Daerah penghasil kelapa, yaitu Jawa Barat (Banten, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas), D.I. Yogyakarta, Jawa Timur (Kediri), Sulawesi Utara (Minahasa, Sangihe, Talaud, Gorontalo), dan Kalimantan Selatan (pegunungan Meratus).



  • Kelapa Sawit
Daerah penghasil kelapa sawit ialah D.I. Aceh (Pulau Simelue), Sumatera Utara (Pulau Nias, Pulau Prayan,Medan, Pematang Siantar).



  • Cokelat
Daerah penghasil cokelat ialah Jawa Tengah (Salatiga) dan Sulawesi Tenggara.



  • Pala
Daerah penghasil pala ialah Jawa Barat dan Maluku.



  • Cengkeh
Daerah penghasil cengkeh ialah Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara (Tapanuli), Jawa Barat (Banten, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas), Sulawesi Utara (Minahasa), dan Maluku.



  • Lada
Daerah penghasil lada ialah Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan (Palembang, Pulau Bangka), dan Kalimantan Barat.



  • Vanili
Dihasilkan di daerah Flores (Manggarai, Bajawa), Papua, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.



Persebaran Hasil Kehutanan
Hasil kehutanan negara kita antara lain kayu dan rotan. Jenis kayu yang dihasilkan antara lain keruing, meranti, agathis, jati, cendana, akasia, dan rasamala. Di mana saja persebaran hasil kehutanan ini?
  • Kayu keruing, kayu meranti, dan kayu agathis terutama dihasilkan di daerah-daerah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
  • Kayu jati dihasilkan di daerah Jawa Tengah.
  • Kayu cendana banyak dihasilkan di Nusa Tenggara Timur.
  • Akasia dan rasamala dihasilkan di daerah Jawa Barat.
  • Rotan dihasilkan dari daerah Kalimantan, Sumatera Barat, Sumatera Utara. 

Persebaran Hasil Peternakan


Hasil peternakan negara kita antara lain sapi, kerbau, kuda, dan babi. Berikut ini pesebaran hasil peternakan di Indonesia.
  • Ternak sapi. Daerah penghasil ternak sapi adalah Sumatera (Aceh), Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat (Lombok dan Sumbawa).
  • Ternak kerbau. Daerah penghasil kerbau adalah Aceh, Sulawesi, dan Jawa.
  • Ternak kuda. Daerah penghasil kuda adalah Nusa Tenggara Timur (Pulau Sumba) dan Sumatera Barat.
  • Ternak babi. Daerah penghasil ternak babi adalah Bali, Maluku, Sulawesi Utara (Minahasa), Sumatera Utara (Tapanuli), Jawa Barat (Karawang)

Persebaran Hasil Perikanan

  • Budi daya udang dan bandeng, terdapat di pantai utara Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
  • Daerah penangkapan ikan (nelayan tradisional dan modern) antara lain Sumatera Timur (Bagan Siapi-api), Bengkalis untuk jenis ikan terubuk. Sedangkan ikan tenggiri, cumi-cumi, udang, rumput laut, dan ikan layang-layang ditangkap dari daerah Laut Jawa, Selat Sunda, Pantai Selatan (Cilacap), Selat Bali, Selat Flores, dan Selat Makasar. Kepulauan Maluku (Ambon) menghasilkan tiram, mutiara, dan tongkol.
  • Budidaya ikan di darat. Budidaya ikan di darat itu ada bermacam- macam, antara lain di tambak/empang, waduk/bendungan, sawah (minapadi), sungai (sistem keramba), dan di danau.

Peta Persebaran Pertambangan

Hasil bahan tambang negara Indonesia antara lain minyak bumi, bauksit (bijih alumunium), batu bara, besi, timah, emas, tembaga, nikel, marmer, mangan, aspal, belerang, dan yodium. Berikut ini daerah persebarannya.
  • Minyak bumi
Ada banyak tambang minyak bumi di Indonesia. Daerahdaerah penghasil tambang minyak sebagai berikut.
  1. Tambang minyak di pulau Sumatera terdapat di Aceh (Lhoksumawe dan Peureula); Sumatera Utara (Tanjung Pura); Riau (Sungaipakning, Dumai); dan Sumatera Selatan (Plaju, Sungai Gerong, Muara Enim).
  2. Tambang minyak di pulau Jawa terdapat di Wonokromo, Delta (Jawa Timur); Cepu, Cilacap di (Jawa Tengah); dan Majalengka, Jatibarang (Jawa Barat).
  3. Tambang minyak di pulau Kalimantan terdapat di Balikpapan, Pulau Tarakan, Pulau Bunyu dan Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) serta Amuntai, Tanjung, dan Rantau (Kalimantan Selatan)
  4. Maluku (Pulau Seram dan Tenggara), serta
  5. Irian Jaya (Klamono, Sorong, dan Babo).


  • Bauksit (bijih aluminium)
Penambangan bauksit berada di daerah Riau (Pulau Bintan) dan Kalimantan Barat (Singkawang).



  • Batu bara
Penambangan batu bara terdapat di Sumatera Barat (Ombilin, Sawahlunto), Sumatera Selatan (Bukit Asam, Tanjungenim), Kalimantan Timur (Lembah Sungai Berau, Samarinda), Kalimantan Selatan (Kotabaru/Pulau Laut), Kalimantan tengah (Purukcahu), Sulawesi Selatan (Makassar), dan Papua (Klamono).



  • Besi
Penambangan besi terdapat di daerah Lampung (Gunung Tegak), Kalimantan Selatan (Pulau Sebuku), Sulawesi Selatan (Pegunungan Verbeek), dan Jawa Tengah (Cilacap).



  • Timah
Penambangan timah terdapat di daerah Pulau Bangka (Sungai Liat), Pulau Belitung (Manggara), dan Pulau Singkep (Dabo).



  • Emas
Penambangan emas terdapat di daerah Nangroe Aceh Darussalam (Meulaboh), Riau (Logos), Bengkulu (Rejang Lebong), Sulawesi Utara (Bolaang Mongondow, Minahasa), Kalimantan Barat (Sambas), Jawa Barat (Cikotok, Pongkor), dan Freeport (Timika, Papua).



  • Tembaga
Penambangan tembaga terdapat di daerah Irian Jaya (Tembagapura).



  • Nikel
Ditambang dari daerah Sulawesi Tenggara (Soroako).



  • Marmer
Ditambang dari daerah Jawa Timur (Tulungagung), Lampung, Makassar, Timor.



  • Mangan
Ditambang dari daerah Yogyakarta (Kliripan), Jawa Barat (Tasikmalaya), dan Kalimantan Selatan (Martapura).



  • Aspal
Ditambang dari daerah Sulawesi Tenggara (Pulau Buton).



  • Belerang
Ditambang dari daerah Jawa Barat (Gunung Patuha), Jawa Timur (Gunung Welirang).



  • Yodium
Ditambang dari daerah Jawa Tengah (Semarang), Jawa Timur (Mojokerto).



Pemanfaatan Sumber Daya Alam
Pemanfaatan Sumber Daya Alam Tanah
Tanah banyak sekali kegunaannya. Banyak kegiatan ekonomi yang sangat tergantung pada tanah. Di antaranya kegiatan pertanian, perkebunan, peternakan, dan industri berbahan baku tanah.

Usaha Pertanian
Tanah air kita terkenal subur. Tanah yang subur sangat cocok untuk usaha pertanian. Ada bermacam-macam pertanian. Misalnya pertanian padi, ubi kayu (singkong), palawija, dan sayur-sayuran. Contoh tanaman palawija adalah jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Contoh tanaman sayur-sayuran adalah kol, sawi, bayam, cabe, terong, tomat, buncis, kangkung, labu siam, kacang panjang, dan wortel. Ada beberapa hasil pertanian yang diolah lebih lanjut. Contohnya adalah jagung, kedelai, dan ubi kayu.
  • Jagung dapat diolah menjadi pakan ternak dan bermacam-macam makanan kecil.
  • Kacang kedelai dapat diolah menjadi tahu, tempe, kecap, dan susu.
  • Ubi kayu dapat diolah menjadi makanan ringan seperti keripik, getuk, dan tepung tapioka.
Usaha Perkebunan

Tanah yang subur juga baik untuk usaha perkebunan. Hasil perkebunan Indonesia antara lain kelapa sawit, karet, kopi, cokelat, teh, tebu, rosela dan kina. Hasil perkebunan dapat diolah menjadi produk industri. Contohnya sebagai berikut.
  •  Kelapa sawit diolah menjadi minyak goreng dan margarin.
  •  Kopi, cokelat, dan teh untuk bahan baku pembuatan minuman.
  •  Cengkeh dan tembakau untuk bahan pembuatan rokok dan  obat -   obatan
  •  Karet menjadi bahan baku untuk membuat ban.
  •  Tebu mejadi bahan dasar pembuatan gula pasir.
  •  Rosela menjadi bahan dasar membuat karung goni.
  • Kina digunakan sebagai bahan dasar pembuat obat malaria.
Usaha Peternakan

Apa yang dihasilkan dari usaha peternakan? Produk-produk usaha peternakan banyak sekali. Berikut ini di antaranya.
  • Sapi, kerbau, sapi, kambing, dan domba menghasilkan dagingnya untuk dikonsumsi dan sumber protein hewani.
  • Ayam menghasilkan daging dan telur.
  • Ulat sutera menghasilkan bahan baku pembuatan kain sutera.

Usaha Industri Berbahan Baku Tanah

Banyak produk industri yang terbuat dari tanah. Contoh industri dengan bahan baku tanah adalah industri genting, batu bata, dan gerabah.
Memanfaakan Sumber Daya Alam Air
Apakah di lingkunganmu ada daerah perairan? Daerah perairan itu misalanya sungai, danau, dan laut. Ternyata air merupakan sumber daya alam yang sangat berguna. Bagaimana cara memanfaatkan sumber daya alam air? Berikut ini di antaranya.
  1. Menangkap ikan yang hidup di air secara alami. Usaha ini dilakukan oleh para nelayan.
  2. Membudidayakan rumput laut. Rumput laut menjadi bahan baku makanan dan obat.
  3. Memelihara ikan dan udang di kolam, empang, dan tambak.
  4. Mengembangkan wisata air. Ada banyak jenis pariwisata air, misalnya selancar, arum jeram, dan menyelam.
  5. Menjadikan air sebagai sarana transportasi.
  6. Membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
  7. Membangun irigasi untuk usaha pertanian.
Memanfaatkan Sumber Daya Alam Hutan
Banyak sekali manfaat hutan. Hutan menjadi penyaring udara. Hutan menahan erosi dan membantu peresapan air. Hutan menjadi tempat tinggal bermacammacam hewan. Hutan menghasilkan berbagai jenis kayu, bambu, dan rotan. Kayu bisa diolah menjadi bahan bangunan, bahan mebel, dan kertas. Bambu dan rotan menjadi bahan baku mebel dan industri kerajinan.
Memanfaatkan Hasil Tambang
Hasil tambang diambil dari perut bumi digunakan untuk berbagai keperluan. Berikut ini di antaranya.
  • Minyak bumi diolah menjadi avtur, bensol, kerosin, bensin, solar, dan minyak tanah. Avtur digunakan sebagaibahan bakar pesawat terbang. Bensin dan solar untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Minyak tanah menjadi bahan bakar kompor.
  • Bijih besi digunakan untuk bahan baku pembuatan mesin pabrik, kendaraan bermotor, jembatan, campuran pisau dan gunting, dan baja.
  • Batu bara menjadi bahan bakar kereta api, kapal laut, dan pembangkit listrik.
  • Bouksit untuk bahan baku aluminium. Alumunium dimanfaatkan untuk membuat pesawat dan alat-alat rumah tangga.
  • Mangan untuk pembuatan besi baja.
  • Belerang untuk campuran obat.
  • Marmer untuk bahan bangunan rumah atau gedung.
  • Emas dan perak untuk perhiasan, misalnya cincin, gelang, kalung, anting, bros, dan sebagainya.

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM



Pengelolaan sumberdaya alam merupakan pengelolaan lahan, air, tanah, tumbuhan, dan hewan, dengan fokus terutama pada pengelolaan yang mempengaruhi kualitas hidup manusia, baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang (Anonim, 2010).
Pengelolaan sumberdaya alam berkaitan dengan interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Hal itu mencakup rencana penggunaan lahan, pengelolaan air, konservasi keanekaragaman hayati, dan industri keberlanjutan, seperti pertanian, pertambangan, pariwisata, perikanan, dan kehutanan. Itu menunjukkan bahwa manusia dan mata pencahariannya masih bergantung pada kesehatan dan produktivitas lingkungan (Anonim, 2010).
1.      Pengelolaan Sumberdaya Alam pada Sektor Pertanian
Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting dan strategis, bukan hanya pada sektor pada sektor ekonomi tapi juga pada sosial dan politik (Sutikno, 2006).
Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara selama pemerintahan Orde Baru, disebutkan bahwa prioritas pembangunan nasional adalah pada sektor pertanian (Kuncoro, 2002). Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengembangkan sektor pertanian antara lain melalui peningkatan teknologi, penambahan input, maupun melalui kebijakan-kebijakan pemerintah (Sutikno, 2006).
Di Indonesia, peningkatan teknologi ditunjukkan dengan adanya revolusi hijau pada tahun 1960-1970-an. Perkembangan revolusi hijau terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi atau hubungan yang erat antara pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Menurut Tlyy (dalam Sutikno, 2006) perkembangan teknologi pada sektor pertanian meliputi proses mekanisasi dan penemuan varietas unggul.
Sumberdaya atau input yang digunakan dalam produk pertanian biasanya dibedakan menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut (Sutikno, 2006).
  1. Sumberdaya internal (internal resources), sumberdaya ini merupakan sumberdaya yang berasal dari alam, seperti tanah, air, dan bibit.
  2. Sumberdaya eksternal (external resources), sumberdaya ini merupakan sumberdaya yang berasal dari luar atau selain sumberdaya alam, seperti traktor, pupuk, pestisida, dan bahan kimia lainnya.
Selain penggunaan teknologi dan penambahan input untuk meningkatkan produksi sektor pertanian, didukung pula oleh peran pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya. Di Indonesia, perkembangan sektor pertanian diawali dengan program intensifikasi pertanian (Sutikno, 2006).
2.      Pengelolaan Sumberdaya Alam pada Sektor Pertambangan
Tujuan pengelolaan sumberdaya alam pada sektor ini adalah untuk mencapai optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral, batubara, panas bumi dan air tanah melalui usaha pertambangan dengan prinsip good mining practice. Beberapa kegiatannya antara lain sebagai berikut (Anonim, 2012).
  1. Penyusunan regulasi, pedoman teknis, dan standar pertambangan mineral dan batubara panas bumi dan air tanah.
  2. Pembinaan dan pengawasan kegiatan penambangan.
  3. Pengawasan produksi, pemasaran, dan pengelolaan mineral dan batubara, panas bumi dan air tanah.
  4. Evaluasi perencanaan produksi dan pemasaran mineral dan batubara, panas bumi dan air tanah.
  5. Evaluasi pelaksanaan kebijakan program pengembangan masyarakat di wilayah pertambangan.
3.      Pengelolaan Sumberdaya Alam pada Sektor Perikanan
Pengelolaan sumberdaya alam pada sektor perikanan bertujuan untuk mengelola dan mendayagunakan potensi sumber daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil secara optimal, adil, dan lestari melalui keterpaduan antar berbagai pemanfaatan sehingga memberikan kontribusi yang layak bagi pembangunan nasional, pembangunan daerah, dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Beberapa kegiatan pokoknya antara lain sebagai berikut (Anonim, 2012).
  1. Perumusan kebijakan dan penyusunan peraturan dalam pengelolaan sumberdaya laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil secara terintegrasi.
  2. Pengelolaan sumber daya pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil secara efisien, dan lestari berbasis masyarakat.
  3. Pengembangan sistem MCS (monitoring, controlling, and surveillance) dalam pengendalian dan pengawasan, termasuk pemberdayaan masyarakat dalam  sistem pengawasan.
  4. Penataan ruang wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil sesuai dengan daya dukung lingkungannya.
  5. Percepatan penyelesaian kesepakatan dan batas wilayah laut dengan negara tetangga, khususnya dengan Singapura, Malaysia, Filipina, Papua New Guinea, dan Timor Leste.
4.      Pengelolaan Sumberdaya Alam pada Sektor Kehutanan
Pengelolaan sumberdaya alam pada sektor kehutanan yang dilakukan oleh pemerintah ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi hutan secara lebih efisien, optimal, adil, dan berkelanjutan dengan mewujudkan unit-unit pengelolaan hutan produksi lestari dan memenuhi kaidah sustainable forest management (SFM) serta didukung oleh industri kehutanan yang kompetitif. Beberapa kegiatan pokok yang tercakup dalam program ini antara lain sebagai berikut (Anonim, 2012).
  1. Penetapan kawasan hutan.
  2. Penetapan kesatuan pengelolaan hutan khususnya di luar Jawa.
  3. Penatagunaan hutan dan pengendalian alih fungsi dan status kawasan hutan.
  4. Pembinaan kelembagaan hutan produksi.
  5. Pengembangan sertifikasi pengelolaan hutan lestari.
  6. Pengembangan hasil hutan non-kayu dan jasa lingkungannya.
  7. Konservasi sumber daya hutan
Pengelolaan sumberdaya alam juga kongruen dengan konsep pembangunan berkelanjutan, sebuah prinsip ilmiah yang membentuk dasar untuk pengelolaan lahan berkelanjutan secara global dan penguasaan lingkungan untuk melestarikan dan menjaga sumberdaya alam (Anonim, 2010).
Pengelolaan sumberdaya alam khususnya berfokus pada pemahaman ilmiah dan tekhnik sumberdaya serta ekologi dan daya dukung sumberdaya ini. Pengelolaan lingkungan juga mirip dengan Pengelolaan sumberdaya alam. Dalam konteks akademik, sosiologi sumberdaya alam sangat terkait erat dengan lingkungan, namun berbeda dengan pengelolaan sumberdaya alam. dengan kata lain, pokok perhatian berkisar pada ekologi terapan (applied ecology) dan lingkungan kehidupan manusia (human environment) (Anonim, 2010).
Ekologi terapan menyangkut kegiatan manusia di bidang pengelolaan sumberdaya alam, dalam hubungan ini manusia secara langsung terlibat dalam serangkaian langkah kegiatan yang membawa dampak ekologis. Hal itu dimungkinkan karena manusia mengendalikan ekosistem dengan cara pengelolaan sumber alamnya yang dapat menguntungkan ataupun merugikan keadaan ekologi dan tata lingkungannya. Masalahnya kini berpokok pada pola dan arah pengelolaan ekosistem yang dapat membawa hasil optimal bagi kehidupan manusia secara terus-menerus atau secara berkelanjutan (Sutikno, 2006).
Penafsiran tentang pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) diartikan sebagai daya upaya untuk memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi-generasi mendatang. Dengan kata lain, proses pembangunan harus bisa berlangsung secara terus-menerus dan sambung-menyambung.
Oleh karena itu, dalam pengelolaan sumberdaya alam harus dilakukan secara hati-hati dan penuh rasa tanggung jawab agar tidak memberikan dampak pada orang lain, baik untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang (Sutikno, 2006).
Secara umum, pengelolaan sumberdaya alam yang bertanggungjawab dapat diartikan sebagai proses pengelolaan sumberdaya alam yang sesuai dengan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kebutuhan generasi yang akan datang. Selain itu, dalam proses pengambilan sampai dengan pengolahannya tidak menimbulkan biaya atau kerugian yang harus ditanggung oleh orang lain, baik saat ini maupun masa yang akan datang. Menurut Suparmoko (dalam Sutikno, 2006), kebijakan sumberdaya alam yang bertanggungjawab terhadap generasi saat ini maupun generasi yang akan datang adalah terdiri dari satu himpunan peraturan serta tindakan yang berhubungan dengan penggunaan sumberdaya alam untuk membuat perekonomian bekerja secara efisien serta dapat bertahan dalam waktu yang tak terbatas, tidak menurunkan pola konsumsi agregat, tanpa tidak dipulihkannya lingkungan fisik yang rusak maupun tanpa menimbulkan risiko yang besar bagi generasi yang akan datang, tetapi justru sebaliknya akan membuat generasi yang akan datang lebih sejahtera (Sutikno, 2006).
Menurut Sutikno (2006), dengan merealisasikan sistem pengambilan keputusan di bidang pengelolaan sumberdaya alam secara partisipatif, transparan, dan akuntabel merupakan hal yang penting dan strategis untuk mencegah eksploitasi/pengurasan sumberdaya alam dan kerusakan lingkungan hidup, serta untuk mewujudkan prinsip sumberdaya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang paling lama (antar generasi) untuk menciptakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable development).
Salah satu masalah pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup adalah bagaimana agar kepentingan ekonomi dan lingkungan bisa berjalan. Untuk mengatasinya saat ini muncul konsep baru, yaitu dengan menggunakan pendekatan standarisasi mutu lingkungan bagi produsen barang maupun jasa, standarisasi mutu lingkungan tersebut disebut ISO 14000 (Sutikno, 2006).
Untuk menciptakan sistem pengelolaan lingkungan yang baik maka muncul ISO 14000. Lingkup ISO 14000 mencakup bahan baku dari perangkat dan Sistem Pengelolaan Lingkungan (SPL) atau Environmental Management System (EMS) (Hale dalam Sutikno, 2006). Seri ISO 14000 ini bisa mendorong atau sebagai alat pendukung ketentuan atau peraturan perundang-undangan suatu negara. Karena penentuan ambang batas serta tolak ukur kualitas lingkungan, tingkat pencemaran, atau kadar suatu zat pencemar tetap menjadi wewenang pemerintah yang bersangkutan, misalnya untuk Indonesia akan disesuaikan dengan SNI (Standar Nasional Indonesia). Sistem pengelolaan lingkungan mempunyai makna penting dalam membantu suatu unit organisasi (industri, usaha, dan sebagainya) dalam merumuskan lingkungan yang baik (Sutikno, 2006).
Seri ISO 14000 dikembangkan dari standar ISO 9000 yang mencakup tiga kualitas suatu produk untuk dapat memperkuat sistem dalam persaingan, yaitu keunggulan dalam harga, kualitas, dan pengadaan. Oleh karena itu, ISO 9000 juga mempunyai hubungan erat dengan manajemen mutu. Sedangkan ISO 14000 ditujukan terutama untuk lebih meningkatkan citra baik suatu kegiatan bisnis terhadap lingkungan hidup (Sutikno, 2006).


Daftar Pustaka :





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar